Klinik Apollo – Human papilloma virus (HPV) merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit dan selaput lendir, termasuk area kelamin. Infeksi ini sering di kaitkan dengan aktivitas seksual.

Namun, banyak orang bertanya-tanya, apakah penularan HPV tanpa hubungan seksual juga bisa terjadi? Jawabannya bergantung pada jenis HPV dan bentuk kontak yang terjadi.

HPV genital paling sering menular melalui kontak intim antarkulit, termasuk ketika seseorang melakukan aktivitas seksual tanpa penetrasi. Sementara itu, jenis HPV yang menyebabkan kutil pada tangan atau kaki dapat menyebar melalui kontak kulit secara langsung.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), infeksi HPV sangat umum terjadi. Sebagian besar infeksi dapat di kendalikan oleh sistem kekebalan tubuh dalam waktu sekitar 2 tahun, tetapi beberapa jenis HPV dapat menetap dan meningkatkan risiko penyakit tertentu.

Oleh karena itu, penting untuk memahami cara penularan HPV yang sebenarnya agar tidak salah menilai risiko, mengabaikan gejala, atau menarik kesimpulan yang keliru mengenai riwayat kesehatan seseorang.

Apa Itu HPV dan Mengapa Perlu Diwaspadai?

HPV adalah singkatan dari human papilloma virus, yaitu kelompok virus yang terdiri atas lebih dari 200 jenis.

Setiap jenis dapat menginfeksi bagian tubuh yang berbeda dan menimbulkan kondisi yang berbeda pula.

Secara umum, HPV dapat di bedakan menjadi dua kelompok berdasarkan jenis infeksinya:

  • HPV kulit: Beberapa jenis menyebabkan kutil biasa pada tangan, jari, atau telapak kaki.
  • HPV genital atau mukosa: Beberapa jenis menginfeksi area kelamin, anus, mulut, dan tenggorokan. Jenis tertentu dapat menyebabkan kutil kelamin, sedangkan jenis berisiko tinggi dapat memicu perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

Perlu di ketahui bahwa jenis HPV penyebab kutil kelamin umumnya berbeda dari jenis HPV yang menyebabkan kanker.

Karena itu, munculnya kutil tidak otomatis berarti seseorang mengalami kanker.

Apakah Penularan HPV Tanpa Hubungan Seksual Bisa Terjadi?

Ya, penularan HPV tanpa hubungan seksual penetratif dapat terjadi.

Namun, penting untuk membedakan antara tidak melakukan penetrasi dan sama sekali tidak mengalami kontak intim.

HPV genital terutama menyebar melalui kontak langsung dengan kulit atau permukaan mukosa yang terinfeksi.

Penularan dapat terjadi ketika area genital bersentuhan dengan area genital pasangan, meskipun penis tidak masuk ke dalam vagina atau anus.

Di sisi lain, kutil pada tangan dan kaki dapat di sebabkan oleh jenis HPV kulit yang menyebar melalui kontak langsung.

Mekanisme ini berbeda dari penularan HPV genital.

Dengan demikian, tidak semua kasus HPV memiliki jalur penularan yang sama.

Jenis virus, lokasi infeksi, dan bentuk kontak yang terjadi perlu di pertimbangkan saat menilai risiko seseorang.

Cara Penularan HPV Tanpa Hubungan Seksual yang Perlu Diketahui

Ada beberapa kondisi yang perlu di pahami ketika membahas penularan HPV tanpa hubungan seksual.

Berikut penjelasannya berdasarkan informasi medis.

1. Kontak intim tanpa penetrasi

HPV genital dapat menular melalui kontak kulit ke kulit di area genital.

Misalnya, ketika alat kelamin bersentuhan secara langsung meskipun tidak terjadi penetrasi.

Selain itu, kontak intim yang melibatkan tangan dan area genital juga berpotensi menularkan virus.

Namun, risiko penularan melalui tangan tidak dapat di samakan dengan jalur penularan utama HPV genital.

2. Kontak kulit dengan kulit yang terinfeksi

Jenis HPV tertentu menyebabkan kutil pada kulit, seperti tangan dan kaki.

Virus dapat menyebar melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi, terutama jika terdapat luka kecil pada kulit.

Namun, HPV penyebab kutil biasa pada tangan atau kaki berbeda dari jenis HPV yang umumnya menginfeksi area genital.

Oleh sebab itu, kutil di tangan tidak otomatis menjadi penyebab kutil kelamin.

3. Penggunaan mainan seksual secara bergantian

Penggunaan sex toys secara bergantian tanpa pembersihan yang tepat atau pelindung baru dapat meningkatkan risiko perpindahan HPV genital.

Karena itu, hindari berbagi mainan seksual atau gunakan pelindung baru sesuai petunjuk penggunaan dan bersihkan perangkat dengan benar.

4. Penularan dari ibu kepada bayi saat persalinan pervaginam

Dalam kasus yang jarang terjadi, HPV dapat berpindah dari ibu kepada bayi selama proses persalinan pervaginam.

Meski demikian, penularan ini tidak berarti bayi pasti mengalami penyakit akibat HPV.

5. Penularan melalui benda sehari-hari

Banyak orang khawatir HPV genital dapat menular melalui dudukan toilet, handuk, pakaian, atau alat makan.

Namun, benda-benda tersebut bukan jalur penularan HPV genital yang lazim di akui.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan seseorang terinfeksi HPV genital hanya karena menggunakan toilet umum atau berbagi alat makan.

Apakah HPV Bisa Menular Tanpa Berhubungan Badan Sama Sekali?

Pertanyaan ini perlu di jawab secara hati-hati karena istilah tanpa hubungan seksual dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.

Jika seseorang tidak pernah melakukan penetrasi, penularan HPV genital masih mungkin terjadi melalui kontak intim antarkulit, termasuk kontak genital tanpa penetrasi.

Namun, apabila seseorang tidak pernah melakukan aktivitas seksual maupun kontak intim genital, penularan HPV genital menjadi lebih sulit di jelaskan.

Sejumlah penelitian membahas kemungkinan penularan nonseksual, tetapi bukti mengenai jalur tersebut masih terbatas dan belum cukup untuk menyimpulkan penyebab infeksi pada individu tertentu.

Perlu di ingat bahwa pemeriksaan HPV positif tidak dapat memastikan kapan infeksi terjadi atau siapa yang menularkannya.

HPV dapat tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun sebelum terdeteksi.

Oleh karena itu, hasil pemeriksaan tidak dapat di gunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai riwayat seksual atau kesetiaan pasangan.

Gejala Infeksi HPV yang Perlu Diwaspadai

Sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala yang terlihat.

Akibatnya, seseorang dapat membawa virus tanpa menyadarinya.

Namun, beberapa jenis HPV dapat menimbulkan tanda-tanda berikut.

  • Muncul kutil kelamin: Benjolan kecil yang dapat tumbuh 1 atau berkelompok di penis, vagina, vulva, selangkangan, atau sekitar anus.
  • Permukaan benjolan tidak rata: Kutil dapat terlihat datar, menonjol, atau menyerupai kembang kol.
  • Rasa gatal atau tidak nyaman: Sebagian kutil dapat menimbulkan iritasi, nyeri, atau perdarahan.
  • Perubahan sel leher rahim: HPV berisiko tinggi dapat menyebabkan perubahan sel yang biasanya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
  • Kelainan di mulut atau tenggorokan: Jenis HPV tertentu dapat berkaitan dengan kutil atau penyakit lain pada area tersebut.

Gejalanya tidak selalu di sebabkan oleh HPV.

Benjolan di area genital, misalnya, dapat muncul akibat kondisi kulit atau infeksi lain.

Karena itu, pemeriksaan dokter ahli di perlukan untuk menentukan penyebabnya.

Apakah HPV Berbahaya bagi Pria dan Wanita?

Tingkat risiko HPV bergantung pada jenis virus, lokasi infeksi, serta kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengendalikan infeksi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 90% infeksi HPV dapat di kendalikan secara alami oleh tubuh.

Akan tetapi, infeksi persisten dengan jenis HPV berisiko tinggi dapat menyebabkan perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.

Pada wanita, HPV berisiko tinggi merupakan penyebab utama kanker serviks.

Pada pria maupun wanita, infeksi tertentu juga berkaitan dengan kanker anus dan kanker orofaring atau bagian belakang tenggorokan.

HPV juga dapat menyebabkan kanker penis dan beberapa kanker lain di area genital.

Oleh sebab itu, jangan mengabaikan benjolan yang tidak biasa atau menunda skrining serviks yang di anjurkan tenaga medis.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Infeksi HPV?

Diagnosis HPV bergantung pada lokasi infeksi dan kondisi yang di curigai.

Tidak semua orang memerlukan tes HPV yang sama.

Dokter ahli dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter ahli memeriksa benjolan, kutil, atau perubahan kulit pada area yang mengalami keluhan.
  • Pemeriksaan serviks. Pada wanita yang memenuhi kriteria skrining, dokter ahli dapat merekomendasikan tes HPV atau pemeriksaan sitologi serviks (Pap smear) sesuai pedoman yang berlaku.
  • Pemeriksaan lanjutan. Jika di temukan kelainan yang mencurigakan, dokter ahli dapat menyarankan kolposkopi atau biopsi sesuai indikasi.
  • Evaluasi keluhan lainnya. Dokter ahli akan mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain jika benjolan atau luka tidak menunjukkan ciri khas HPV.

Perlu di pahami bahwa tidak tersedia 1 tes rutin yang dapat mendeteksi seluruh jenis HPV di semua bagian tubuh.

Tes HPV untuk skrining kanker serviks juga tidak di gunakan untuk menentukan secara pasti kapan seseorang tertular virus.

Cara Mencegah Penularan HPV

Meskipun tidak semua risiko penularan dapat di hilangkan, ada beberapa langkah yang membantu mengurangi risiko infeksi dan komplikasinya.

  • Mendapatkan vaksin HPV. Vaksin membantu melindungi dari jenis HPV tertentu yang menyebabkan kanker dan, bergantung pada jenis vaksinnya, kutil kelamin. Vaksin paling efektif di berikan sebelum seseorang terpapar virus.
  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) saat berhubungan seksual. Kondom (pengaman atau pelindung) dapat mengurangi risiko penularan, tetapi tidak memberikan perlindungan penuh karena HPV dapat menginfeksi kulit yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).
  • Menghindari berbagi mainan seksual. Jika di gunakan bersama, bersihkan sesuai petunjuk dan gunakan pelindung baru untuk setiap pengguna.
  • Menjalani skrining serviks sesuai anjuran. Vaksinasi tidak menggantikan pemeriksaan skrining kanker serviks.
  • Memeriksakan kelainan sejak dini. Jangan menghilangkan kutil genital sendiri menggunakan obat kutil biasa karena produk tersebut belum tentu aman untuk kulit genital.

WHO menegaskan bahwa vaksinasi HPV dan skrining serviks merupakan langkah penting dalam pencegahan kanker serviks.

Konsultasi HPV di Klinik Apollo Jakarta

Penularan HPV tanpa hubungan seksual penetratif memang dapat terjadi, terutama melalui kontak intim antarkulit. Namun, penularan HPV genital melalui benda sehari-hari bukan jalur yang lazim, dan penyebab infeksi tidak selalu dapat di pastikan hanya berdasarkan gejala atau hasil pemeriksaan.

Jika Anda menemukan kutil kelamin, benjolan yang tidak biasa, atau perubahan pada area genital, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan. Diagnosis yang tepat membantu menentukan apakah keluhan di sebabkan oleh HPV atau kondisi medis lainnya.

Segera konsultasikan keluhan Anda dengan tenaga medis di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan evaluasi sesuai kondisi, informasi mengenai pemeriksaan yang di perlukan, serta pilihan penanganan yang tepat.

Dengan konsultasi yang profesional dan menjaga privasi pasien, Anda dapat memahami kondisi kesehatan dengan lebih baik, memperoleh rekomendasi perawatan yang sesuai, dan mengetahui langkah pencegahan untuk mengurangi risiko komplikasi maupun kekambuhan.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Suka dengan artikel ini?

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.