Klinik Apollo – Human papilloma Virus (HPV) merupakan salah satu penyebab utama kanker serviks. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi HPV akan mengalami kanker.

Sebagian besar infeksi HPV dapat di kendalikan oleh sistem kekebalan tubuh dan hilang dengan sendirinya. Masalah dapat muncul ketika infeksi HPV berisiko tinggi menetap dalam waktu lama.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim yang secara bertahap berkembang menjadi luka prakanker dan, jika tidak di tangani, kanker serviks.

Karena itu, memahami hubungan HPV dengan kanker serviks penting bagi perempuan untuk menentukan langkah pencegahan dan pemeriksaan yang tepat.

Apa Itu HPV?

HPV atau Human Papilloma Virus merupakan kelompok virus yang terdiri dari lebih dari 200 tipe.

Virus ini dapat menginfeksi kulit, area genital, anus, serta beberapa bagian tenggorokan.

HPV termasuk infeksi menular seksual (IMS) yang sangat umum.

Penularannya terutama terjadi melalui kontak seksual dan kontak kulit dengan area yang terinfeksi.

Banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi karena HPV sering tidak menimbulkan gejala.

Menurut WHO, sebagian besar infeksi HPV dapat di kendalikan tubuh secara alami dalam waktu sekitar 1 hingga 2 tahun.

Namun, sebagian infeksi dengan tipe HPV berisiko tinggi dapat menetap dan menyebabkan perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker.

Apa Hubungan HPV dengan Kanker Serviks?

Hubungan HPV dan kanker serviks terutama terjadi akibat infeksi HPV risiko tinggi yang menetap.

Ketika HPV berisiko tinggi menginfeksi sel leher rahim, tubuh biasanya berusaha mengendalikan virus tersebut.

Jika infeksi berhasil di bersihkan, risiko terjadinya perubahan prakanker menjadi rendah.

Sebaliknya, apabila virus bertahan selama bertahun-tahun, infeksi tersebut dapat menyebabkan perubahan pada DNA dan struktur sel leher rahim.

Perubahan ini dapat berkembang dari: Infeksi HPV → perubahan sel → luka prakanker → kanker serviks. Proses tersebut umumnya berlangsung dalam waktu lama, bukan terjadi secara tiba-tiba.

WHO menyebutkan bahwa perubahan sel akibat infeksi HPV hingga berkembang menjadi kanker biasanya membutuhkan sekitar 15 hingga 20 tahun, meskipun prosesnya dapat berlangsung lebih cepat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi.

WHO menyebut sekitar 99% kasus kanker serviks terkait dengan infeksi HPV berisiko tinggi.

Jenis HPV Apa yang Berisiko Menyebabkan Kanker Serviks?

Tidak semua tipe HPV memiliki risiko yang sama.

Secara umum, HPV dapat di kelompokkan menjadi:

1. HPV risiko rendah

Tipe ini umumnya tidak menyebabkan kanker.

Beberapa di antaranya dapat menyebabkan kutil kelamin atau kutil genital.

HPV tipe 6 dan 11, misalnya, merupakan penyebab sebagian besar kasus kutil kelamin.

2. HPV risiko tinggi

Jenis ini memiliki kaitan dengan kanker, terutama jika infeksinya menetap.

Beberapa tipe yang termasuk HPV risiko tinggi antara lain HPV 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59.

Di antara tipe tersebut, HPV 16 dan HPV 18 memiliki kaitan yang sangat kuat dengan kanker.

Menurut National Cancer Institute (NCI), HPV 16 dan HPV 18 secara bersama-sama menyebabkan sekitar 70% kanker serviks di seluruh dunia.

Apakah Semua Orang yang Terinfeksi HPV Akan Mengalami Kanker Serviks?

Tidak.

Ini merupakan salah satu hal penting yang perlu di pahami.

Mendapatkan hasil HPV positif tidak berarti seseorang sudah mengalami kanker serviks.

Sebagian besar infeksi HPV bersifat sementara. Sistem kekebalan tubuh dapat mengendalikan virus tersebut sehingga infeksi menghilang dalam 1 hingga 2 tahun.

Risiko menjadi lebih serius ketika HPV risiko tinggi menetap dalam waktu lama dan menyebabkan perubahan pada sel leher rahim.

Karena itu, seseorang dengan hasil HPV positif perlu mengikuti anjuran dokter ahli mengenai pemeriksaan lanjutan, bukan langsung menganggap dirinya terkena kanker.

Apakah HPV Menimbulkan Gejala?

Sering kali tidak ada gejala khusus.

Inilah salah satu alasan mengapa infeksi HPV bisa tidak di sadari.

Bahkan, perubahan prakanker pada leher rahim umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Sementara itu, beberapa jenis HPV risiko rendah dapat menyebabkan kutil pada area genital.

Ketika kanker serviks sudah berkembang, gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Perdarahan vagina yang tidak normal (abnormal).
  • Perdarahan setelah berhubungan seksual.
  • Perdarahan di luar periode menstruasi.
  • Keputihan yang tidak biasa atau berbau.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Nyeri panggul.

Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti kanker serviks karena dapat di sebabkan oleh kondisi lain.

Oleh sebab itu, pemeriksaan medis tetap di perlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Bagaimana HPV Bisa Berkembang Menjadi Kanker Serviks?

Perkembangan kanker serviks umumnya membutuhkan proses yang panjang.

Berikut gambaran sederhananya:

1. Terjadi infeksi HPV

Virus masuk dan menginfeksi sel pada leher rahim.

2. Tubuh mencoba mengendalikan virus

Pada sebagian besar orang, sistem kekebalan tubuh berhasil menghilangkan atau mengendalikan infeksi.

3. Infeksi HPV risiko tinggi menetap

Pada sebagian orang, virus tetap berada dalam tubuh dalam jangka panjang.

4. Terjadi perubahan sel

Infeksi persisten dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim dan membentuk lesi prakanker.

5. Luka prakanker dapat berkembang menjadi kanker

Jika tidak di temukan dan di tangani, sebagian lesi prakanker dapat berkembang menjadi kanker serviks.

Menurut WHO, sekitar 95% kanker serviks berkaitan dengan luka prakanker yang di sebabkan oleh infeksi HPV persisten.

Faktor yang Meningkatkan Risiko HPV Menjadi Kanker Serviks

Infeksi HPV risiko tinggi tidak selalu berkembang menjadi kanker.

Namun, beberapa faktor dapat meningkatkan kemungkinan infeksi menetap dan mengalami perkembangan lebih lanjut.

Faktor tersebut antara lain:

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Infeksi HIV.
  • Kebiasaan merokok.
  • Infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
  • Paparan HPV risiko tinggi yang persisten.
  • Riwayat aktivitas seksual yang meningkatkan kemungkinan paparan HPV.

NCI juga menjelaskan bahwa sistem kekebalan yang lemah dan kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko infeksi HPV bertahan dan berkembang menjadi perubahan prakanker.

Bagaimana Cara Mengetahui Ada HPV atau Tidak?

Karena HPV sering tidak menimbulkan gejala, pemeriksaan menjadi sangat penting.

Beberapa metode yang dapat di gunakan dalam skrining kanker serviks antara lain:

1. Tes HPV

Tes ini bertujuan mendeteksi keberadaan HPV berisiko tinggi yang dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim.

2. Pap smear

Pap smear di lakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim untuk melihat apakah terdapat perubahan sel yang abnormal (tidak normal) atau prakanker.

WHO dan CDC sama-sama menekankan pentingnya skrining kanker serviks untuk menemukan perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kanker.

Jika hasil skrining menunjukkan adanya kelainan, dokter ahli dapat merekomendasikan pemeriksaan atau tindakan lanjutan sesuai kondisi pasien.

Apakah HPV Bisa Dicegah?

Ya.

Pencegahan dapat di lakukan melalui beberapa langkah.

1. Vaksinasi HPV

Vaksin HPV membantu memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker dan kutil kelamin.

CDC menyebut vaksin HPV dapat mencegah lebih dari 90% kanker yang di sebabkan oleh HPV.

Vaksinasi paling optimal di berikan sebelum seseorang terpapar HPV.

Namun, orang dewasa yang belum mendapatkan vaksin tetap dapat berkonsultasi dengan dokter ahli untuk menentukan apakah vaksinasi masih memberikan manfaat sesuai usia dan kondisi masing-masing.

2. Melakukan skrining secara rutin

Vaksin HPV tidak menggantikan pemeriksaan skrining.

Perempuan yang telah mendapatkan vaksin tetap perlu mengikuti rekomendasi skrining kanker serviks sesuai usia dan pedoman medis yang berlaku.

3. Menghindari faktor risiko

Tidak merokok, menjaga kesehatan tubuh, serta melakukan hubungan seksual secara aman dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan komplikasi HPV.

Apakah HPV Positif Berarti Harus Menjalani Pengobatan?

Belum tentu.

Saat seseorang mendapatkan hasil HPV positif, dokter ahli akan mempertimbangkan tipe HPV, hasil pemeriksaan sel serviks, usia, riwayat pemeriksaan sebelumnya, serta faktor risiko lainnya.

Perlu di ketahui bahwa saat ini tidak ada obat-obatan yang secara langsung menghilangkan HPV dari tubuh.

Penanganan di tujukan pada kondisi yang di timbulkan oleh virus, seperti kutil kelamin, luka prakanker, atau kanker jika sudah berkembang.

Karena itu, jangan membeli atau menggunakan obat-obatan sendiri hanya karena mendapatkan hasil HPV positif.

Konsultasikan hasil pemeriksaan kepada dokter ahli agar langkah berikutnya sesuai dengan kondisi Anda.

Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri?

Pertimbangkan konsultasi dengan dokter ahli apabila:

  • Mendapatkan hasil tes HPV
  • Hasil Pap smear menunjukkan kelainan.
  • Mengalami perdarahan vagina setelah berhubungan seksual.
  • Mengalami perdarahan di luar menstruasi.
  • Mengalami keputihan yang tidak biasa dan menetap.
  • Memiliki kutil atau benjolan di area genital.
  • Belum pernah melakukan skrining kanker serviks sesuai rekomendasi.
  • Ingin mendapatkan informasi mengenai vaksin HPV.

Kesimpulan

HPV dan kanker serviks memiliki hubungan yang sangat erat, terutama melalui infeksi HPV risiko tinggi yang menetap dalam jangka panjang. Meski demikian, HPV positif tidak otomatis berarti kanker. Sebagian besar infeksi HPV dapat di kendalikan oleh sistem kekebalan tubuh.

Kabar baiknya, kanker serviks termasuk kanker yang sebagian besar dapat di cegah melalui vaksinasi HPV, skrining rutin, serta penanganan luka prakanker secara tepat. WHO memperkirakan terdapat sekitar 604.000 kasus baru kanker serviks dan 280.000 kematian akibat penyakit ini pada 2024, sehingga pencegahan dan deteksi dini tetap sangat penting.

Jika Anda memiliki hasil tes HPV positif, keluhan pada area reproduksi, atau ingin mengetahui kondisi kesehatan leher rahim, segera konsultasikan dengan dokter ahli di Klinik Apollo.

Pemeriksaan oleh tenaga medis dapat membantu mengetahui kondisi secara lebih jelas, menentukan pemeriksaan lanjutan yang di perlukan, serta mendapatkan penanganan yang sesuai secara privat dan profesional.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Suka dengan artikel ini?

About the Author: Yulia

Yulia
Yulia adalah seorang Content Writer di Klinik Apollo yang sudah berkecimpung di dunia kesehatan penyakit kelamin sejak tahun 2017.