Klinik Apollo, Jakarta – Anda mungkin pernah buang air kecil dengan sensasi yang menyakitkan. Hal tersebut disebabkan oleh bakteri penyebab infeksi saluran kemih.

Tidak hanya perih saat berkemih, punggung atau perut bagian bawah dapat tertekan ketika bagian uretra dan kandung kemih terinfeksi.

Pada banyaknya kasus yang terjadi, perempuan terbukti lebih rentan terkena infeksi saluran kemih.

Selain itu, penggunaan kateter dan sistem imunitas yang lemah dapat mendatangkan bakteri penyebab infeksi saluran kemih.

Kurang baik rasanya apabila mendiamkan pengidap mendiamkan infeksi. Oleh karena itu, pengidap harus memeriksa kondisinya agar patogen yang menyebabkan ISK terdeteksi.

Bakteri Apa Saja yang Menjadi Penyebab Infeksi Saluran Kemih?

Infeksi saluran kemih menjadi masalah kesehatan yang umum di dunia. Banyak orang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa yang pernah mengalami gangguan saluran kencing.

Meskipun begitu, penting untuk menindaklanjuti kondisi tersebut agar tidak semakin parah. Sakit kencing setelah berhubungan intim merupakan salah satu gejala dari infeksi saluran kemih.

Gejala tersebut tentu tidak terjadi begitu saja. Artinya, ada bakteri yang turut andil dalam usaha menginfeksi saluran kemih.

Berikut adalah jenis-jenis bakteri yang menjadi penyebab infeksi saluran kemih:

  • Escherichia coli

Escherichia coli adalah bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih, terutama infeksi kandung kemih (cystitis) dan infeksi uretra (uretritis).

Bakteri yang hidup di saluran pencernaan manusia ini dapat menyebabkan infeksi jika masuk ke saluran kemih.

  • Staphylococcus saprophyticus

Wanita muda dan yang aktif berhubungan seksual, ketika mengalami infeksi saluran kemih, umumnya disebabkan oleh Staphylococcus saprophyticus.

Patogen ini lebih kerap menginfeksi kandung kemih dan uretra.

  • Klebsiella pneumoniae

Klebsiella pneumoniae, selain menjerat saluran kemih, patogen tersebut juga terlibat dalam infeksi pernafasan dan sepsis.

  • Proteus mirabilis

Proteus mirabilis umumnya menginfeksi individu yang memakai kateter atau yang memiliki masalah kandung kemih.

  • Enterococcus faecalis

Bakteri yang bernama Enterococcus faecalis memiliki hubungan dengan infeksi saluran kemih yang berkaitan dengan masalah saluran pencernaan.

  • Pseudomonas aeruginosa

Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau yang menggunakan kateter sangat rentan terhadap bakteri yang bernama Pseudomonas aeruginosa, pemicu ISK.

Baca Juga: Sakit saat Pipis? Begini Cara Mengatasi Infeksi Saluran Kemih

Apa Sajakah Metode Diagnosis Infeksi Saluran Kemih?

Untuk mendeteksi bakteri penyebab infeksi saluran kemih, pengidap membutuhkan pemeriksaan dokter. Beberapa metode diagnosis yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

  • Analisis urine: pengambilan sampel urine untuk analisis di laboratorium merupakan metode paling umum dalam mendiagnosis Infeksi Saluran Kemih (ISK). Melalui analisis urine, dokter akan mengidentifikasi dan menghitung jumlahnya. Jika bakteri ditemukan dalam jumlah yang signifikan, hal ini menunjukkan gangguan.
  • Uji kultur urine: ini adalah penumbuhan bakteri dari sampel urine. Proses ini memungkinkan identifikasi spesies bakteri tertentu yang menyebabkan infeksi dan membantu menentukan antibiotik mana yang efektif untuk pengobatan.
  • Tes sensitivitas antibiotik: pasca mengidentifikasi patogen melalui uji kultur, mungkin dokter akan melakukan pengujian ini. Tes ini membantu menentukan antibiotik mana yang paling efektif dengan menguji respons mikroba terhadap berbagai jenis antibiotik.
  • Tes pendeteksian cepat: tes strip urin merupakan salah satu metode cepat yang bisa mendeteksi komponen bakteri dalam urine.
  • Tes pemeriksaan genetik: metode molekuler, seperti tes polymerase chain reaction (PCR) dapat dokter gunakan kepada pasien untuk mendeteksi DNA bakteri secara cepat dan akurat.

Setelah mendiagnosis, dokter mungkin memberikan antibiotik sebagai penyembuh infeksi saluran kemih.

Antibiotik yang dokter berikan pun tidak sembarang karena harus ada penyesuaian dengan jenis bakteri dan sensitivitas obatnya terlebih dahulu.

>>> KONSULTASI ONLINE GRATIS DI SINI <<<

Suka dengan artikel ini?

About the Author: Yusuf Shabran

Pemuda yang masih belajar menulis dan akan terus belajar hingga tinta menipis. Saat ini tengah mendalami konten-konten dan penulisan seputar kesehatan sebagai Content Writer Klinik Apollo.

Leave A Comment